Jumat, 03 Februari 2017

Ketika (Anak kecil yang ngeLucid) =)



Pagi-pagi kalau bangun tidur, aku musti tanya 'Suhaila mimpi apa tadi malam?' (((please jangan ditanya mengapa bangun tidur engga baca doa atau sholat dulu? karena engga kuceritakan saja. lagi mau fokus dunia mimpi))). Dia mulai sadar mimpi sejak umur 4 tahun, saat mulai paham kalau tidur itu mendapatkan pengalaman yang berbeda dengan kehidupan saat tidak tidur. Dia awal dulu pernah cerita main di sebuah rumah, tapi bukan rumah ini cuma ada keluarga lengkap di situ. Tapi aneh, kata dia, kalau rumahnya kok beda ya? Dia juga bilang pas bangun, sudah ga ada rumahnya. Saat itu baru kujelaskan tentang: Mimpi. 'Ya, itu namanya mimpi. Jadi suhaila bisa jalan-jalan dan main di dunia mimpi ... saat Suhaila tidur.'

Lambat laun dia tanpa ditanya pun langsung cerita semalam mimpi ini dan itu. Tema besarnya antara: mimpi indah dan mimpi buruk. Pernah beberapa kali lucid, seperti tadi malam, dia mendapati Lucid Dream, dia bilang kalau dia tengah berpetualang dengan teman-teman sekolahnya, dan saat itu ada sebuah kejadian sebuah benda masuk ke dalam ember yang besar, anak-anak yang lain kesusahan mau ambil. 'Engga ada tools', kata dia. 'Trus aku harus berpikir pakai apa ambilnya, tiba-tiba ada tools-nya mickey mouse dan ada alat buat ambil bendanya. akhirnya bisa.'

Lucid! 

Dunia lucid merupakan dunia dimana mimpi bisa kita kontrol. Panjang dunia itu ya sepanjang kita bisa mengatasi kesulitan saat berada dalam mimpi. Lucid dream adalah sadar bahwa kita berada dalam mimpi, dan untuk bisa sampai ke sana butuh tahapan-tahapan; kita tidak langsung  berada di kemampuan untuk sadar kalau kita sedang mimpi, tapi mulai mengalami kemampuan bisa mengatasi kesulitan yang dihadapi dalam mimpi. Lamalama kita akan sadar bahwa kalau kita berada dalam dunia mimpi dan mulailah bereksperimen macam-macam. 

Cara untuk mulai mengelola Lucid Dream diantaranya:

 Menulis buku mimpi

Nah, karena Suhaila(6 tahun) masih belum lancar baca dan tulis (plz don't judge her ya. dia tengah berusaha untuk belajar menulis dan membaca he he he) maka aku membantunya mencatat jurnal mimpi dan buku harian dia. Ruang belajarku dan anak-anak berada dalam kamar, jadi ketika fresh baru bangun tidur, suka aku pijat-pijat jemari kaki biar rilex sambil kutanya pelan-pelan, 'semalam mimpi apa?' nanti dia akan cerita dengan segala mood yang ada. Yang penting, mimpi sudah ku'pancing' dan kusimpan dalam buku sesaat setelah selesai dia cerita. 

Memberikan afirmasi positif saat mau tidur

Biasa kalau mau tidur habis doa itu kadang kukasih obrolan, kalau nanti mimpinya engga enak, jangan takut, bisa diubah kok sesuai yang Suhaila mau. Ini kalau istilah kerennya: 'Aku sadar kalau aku bermimpi' dulu umur 4 atau 5 tahun masih belum paham arti kata 'Sadar' dan penggunaannya. Nah sejak umur 6 tahun ini mulai dikenalkan arti kata 'sadar' setidaknya saat kubilang: 'Aku sadar kalau aku bermimpi' dia sudah paham maksudnya. Hasilnya, ya dia sering cerita kalau dia tahu itu mimpi tapi sering kali cerita: 'engga bisa keluar dari mimpinya, uma!' Ha Ha Ha ... serem juga ceritanya. 
Sebagai tambahan, kalau saat dia terlelap di satu jam awal dia pejam mata, suka aku kasih afirmasi: 'Jadi lebih tenang, jangan mudah marah, jangan mudah sedih dan sakit hati ya.' Soalnya akhir-akhir ini dia dan teman-temannya mulai saling menularkan gejolak jiwa mudah tersinggung, marah, sakit hati dan sedih. Ha ha Ha ha .... darimana ku tahu? ya Suhaila suka cerita saat di sekolah ada beberapa teman yang kadang suka nangis, marah, sedih saat bermain, bersendau-gurau atau saat gurunya nge-jokes. Ku melihatnya semacam tidak oke kalau 'moody'nya berlebihan. Ini baru berjalan 3 minggu treatmentnya semoga berhasil. Tapi sadar kalau ini bukan hal yang mengerikan, namanya juga anak-anak. Kita aja yang dewasa sampai umur 50 tahun lebih aja masih susah kontrol suasana hati khan? ☺


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar