Kamis, 23 Februari 2017

Tentang seorang anak laki-laki yang suka muncul di sore hari

Dulu aku menulis di buku harianku tentang seorang anak laki-laki yang suka muncul di sore hari dari sebelah rumahku. Sebelah rumahku itu dulu pabrik kain, dari mulai Kakek sampai Pamanku, berkecimpung di kain dan bekerja di situ. Pabriknya cukup ramai, banyak para pekerja yang bekerja di sana, dan ku tidak hafal satu persatu, tapi aku sering main di Pabrik, seolah berpetualang di gudang besar.

Tentang anak laki-laki yang selalu muncul sore hari saat para pekerja pabrik pulang itu, aku menulis beberapa kisahnya. Dia kalau pulang selalu lewat pintu sebelah rumahku baru kemudian pulang lewati teras dan keluar pabrik lewat pintu rumahku, padahal pabrik juga punya pintu sendiri. Heran mengapa dia pilih lewat pintu samping yang lebih jauh. Dia selalu pulang sore dan suka muncul saat ku main-main sendiri, saat ku masih asyik menari atau main jadi peragawati-peragawatian. Anak laki-laki itu sudah besar sih, sepertinya umur 14 tahun, tinggi, kuning langsat, dan rambutnya pendek. Wajahnya tidak pernah senyum. Saat itu aku berumur 6 tahun, jadi suka main layaknya anak-anak kecil seperti ngobrol sendirian dan nari-nari seenaknya sendiri. Anak laki-laki itu sesekali memperhatikanku saat dia perlahan membuka pintu samping rumah, tapi wajahnya datar, seperti mencemooh kalau yang kuingat. Karena begitu aku melihat dia yang tengah melihatku, aku langsung ambil sikap diam dan duduk. Sering kali hal itu terjadi, dan makin hari, makin kecut senyumnya. Oh lupa. Dia engga pernah senyum. Sampai sumpek kalau dia lewat pintu samping rumah dan kita berpapasan. Dan itu hampir tiap hari. Orang-orang yang bekerja di pabrik itu selalu ramah, suka menyapa atau kadang kirim salam ke orang tuaku. Tapi bocah ini engga sama sekali. Apa karena dia ya masih kecil jadi engga kenal orang tuaku, apalagi aku. 

Sampai suatu hari, aku duduk di pelataran sambil mainan mesin ketik, saat itu umurku sudah 8 tahun, anak laki-laki itu sudah lebih tinggi dari biasanya. Saat itu dia melihatku mengetik sesuatu, dan itu pertama kalinya dia melempar senyum. Saking kagetnya, ku tidak membalas. Itu senyuman, indah seperti hujan tapi lantang seperti petir, jadi bingung khan? Karena ku tak membalas senyum, dia pun menarik kembali senyumnya dan pulang. 

Keesokan harinya, aku menunggu dia. Dia engga ada.
Aku menunggu lagi keesokan harinya, juga tidak ada. 
Seminggu lebih tak nampak lagi dianya. 
Loh kemana dia? Kok tetiba menghilang. 
Sudah sekian tahun dia lewatin pintu rumah samping kalau mau pulang ke rumahnya tapi kok sekarang malah tidak ada lagi. 
Aku ingat, saat itu aku beranikan diri menanyakan kepada orang di pabrik sebelah apa ada anak laki-laki yang kerja di sini. Aku ceritakan ciri-cirinya, dan mereka bilang kalau tidak ada anak laki-laki yang kerja di sini dengan ciri-ciri seperti itu. 

Loh??
Siapa dia dan ada dimana sekarang? Bikin sedih dan menyesal saja. Seharusnya dulu senyumnya ku balas jadi dia tidak pergi selamanya. Tapi anak umur 8 tahun engga pikir panjang. Ya sudah mau cari dimana juga engga ada. Tapi pengalaman itu nyata. Selama beberapa tahun, anak laki-laki itu lewat di depanku, jadi aku hafal sekali pandangan matanya. 

Hingga saat itu datang. 
Aku berumur 12 tahun, saat itu aku pertama kali naik Kereta Api bersama keluarga besarku menuju Jakarta, dan ku bertemu dengan seseorang yang punya pandangan mata yang sama. Aku berpapasan dengannya saat ku mau ke kamar kecil. Dia melempar senyum, dan aku membalasnya. Rasanya seperti kembali ke suasana saat ku mengetik dan dia membagi senyumnya, hanya saja kali ini, aku mengetik sambil membalas senyum yang dulu tak tersampaikan. Dalam hati, aku merasa tuntas. Lunas hutangku selama bertahun-tahun. Kita berpisah setelah bertukar senyum, karena saat itu, sepupuku buru-buru ingin ke kamar kecil juga dan kita berdua menghalangi jalan. 

siapakah dia? Masih tak ada jawaban, 
Tapi setidaknya, hati merasa lebih baikan setelah membayar hutang senyuman. 
Dia pun sepertinya pulang dengan rasa lega. Entah pulang ke Planet apa ... :) 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar